Latest Post

Tak dilirik industri pesawat lokal, Komponen asal RI dipakai Airbus

Sabtu, 19 September 2015 | 19.9.15


Pemerintah mengungkapkan Industri dirgantara Indonesia sudah mampu menyuplai komponen untuk Airbus, produsen pesawat terbang Prancis. Ironisnya, sebagian besar komponen pesawat produksi dalam negeri masih diimpor.

"Sekarang komponennya memang masih dari luar. Tetapi ada yang sudah bisa dibuat di Indonesia. Seperti mesin, interior dan bodi bisa dibuat. Kita sudah punya staf engineering yang sarat teknologi tinggi. Bahkan kita sudah punya tenaga ahli yang bisa membuat bodi presisi tinggi dan juga mengekspor kebutuhan untuk Airbus di luar negeri," ujar Direktur Industri Maritim, Kedirgantaraan dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian Hasbi Assidiq Syamsudin, Jakarta, Jumat (18/9).

Menurutnya, industri komponen pesawat terbang memiliki tantangan cukup berat. Mengingat, industri ini merupakan gabungan dari padat karya, teknologi dan modal.

Untuk itu, pemerintah bakal memfasilitasi bimbingan teknis kepada industri komponen pesawat terbang. Ini agar industri kian memiliki kompetensi dalam pembuatan komponen pesawat.

"Ini kan mengerjakan sesuatu yang besar. Jadi perencanaannya yang matang, jangan dilihat setengah-setengah."

 
Sumber

Atasi Jet Lag Versi Kenes


AKTRIS sekaligus model Kenes Andari tidak pernah mengalami jet lag lagi. Hal ini dipelajari sejak di Sekolah Dasar.

Jet lag kerap terjadi saat seseorang baru bepergian dari daerah yang memiliki zona waktu berbeda dengan daerah tujuan. Terakhir ia pergi ke Selandia Baru yang memiliki perbedaan waktu enam jam dengan Jakarta.

“Kebanyakan orang kalau pulang jet lag-nya lumayan karena beda beberapa jam. Kalau aku enggak pernah jet lag,” tutur Kenes kepada Okezone di Jakarta belum lama ini.

Ia menuturkan bahwa untuk mengatasi jet lag, dirinya selalu mempelajari body clock atau pola hidup hariannya. Hal ini ia siasati saat dirinya masih berada di bangku SD.

Kenes dan keluarganya selalu mengatur jadwal pulang liburannya beberapa hari sebelum ia masuk sekolah. Sehingga ia masih memiliki waktu untuk membiasakan tubuhnya kembali pada pola hidupnya.

“Lama-lama aku pelajari bagaimana caranya biar enggak jet lag. Dulu waktu masih sekolah, momen liburan sekolah pulangnya tuh enggak mepet sama hari masuk sekolah. Dimajukan tiga atau empat hari biar enggak jet lag,” pungkasnya. 



Sumber

Garuda Selesaikan Phase Pertama Haji Dengan Ketepatan Waktu 92 Persen


Garuda Indonesia menyatakan telah berhasil menyelesaikan penerbangan haji phase I (phase keberangkatan) dengan tingkat ketepatan penerbangan “On Time Performance (OTP)” sebesar 92.38 persen.

Penerbangan kloter terakhir phase I tersebut ditandai dengan pemberangkatan pesawat Garuda Indonesia (GA 7280) yang membawa calon jemaah haji embarkasi Jakarta (Kloter 39) pada pukul 15.20 WIB, dan direncanakan mendarat di Jeddah, Arab Saudi pada hari Kamis (17/9) pukul 21.02 waktu setempat.

Dengan berakhirnya phase I musim haji tahun 2015/1436H ini, maka Garuda Indonesia telah menerbangkan total 82.871 calon jemaah haji (dari rencana 83.175 jemaah) dari 9 embarkasi ke tanah suci dalam 210 kelompok terbang (koter). Sebanyak 304 jemaah tidak dapat diberangkatkan akibat sakit serta keterlambatan visa.

“Pada pelaksanaan penerbangan haji phase I (phase keberangkatan) tahun 2015/1436H ini, terdapat lima embarkasi dari sembilan embarkasi yaitu embarkasi Banda Aceh, Balikpapan, Medan, Padang dan Lombok membukukan OTP mencapai 100 persen,” ujar VP Corporate Communication Garuda Indonesia, Benny Butar-Butar.

Benny menjelaskan, penerbangan phase II (phase pemulangan) dari Jeddah untuk gelombang I akan dilaksanakan mulai tanggal 28 September – 11 Oktober 2015, kemudian pelaksanaan phase II (phase pemulangan) dari Madinah untuk gelombang II akan dilaksanakan mulai tanggal 12 Oktober – 26 Oktober 2015 mendatang.

Dalam pelaksanaan penerbangan haji tahun 2015/1436H ini, Benny menjelaskan Garuda Indonesia mengoperasikan 11 pesawat yang terdiri dari 6 pesawat A33-300 (kapasitas 360 seat), 4 pesawat B-747 (kapasitas 455 seat) dan 1 B-777 (kapasitas 393 seat). Sebanyak 9 pesawat dari 11 pesawat yang diopeperasikan tersebut merupakan pesawat milik Garuda Indonesia. Sementara dua pesawat lainnya disewa dari perusahaan asing melalui proses tender terbuka dan transparan, dan diumumkan di media cetak nasional dan internasional. Pesawat-pesawat tersebut rata-rata berusia muda dan diantaranya diproduksi pada tahun 2015.

Garuda Indonesia menyiapkan sebanyak 484 orang awak kabin yang 70% diantaranya merupakan awak kabin yang berasal dari daerah-daerah embarkasi. Tujuan Garuda Indonesia merekrut awak kabin dari daerah-daerah embarkasi tersebut adalah merupakan bagian dari “pelayanan” Garuda Indonesia kepada para jemaah – khususnya untuk mengatasi kendala komunikasi (bahasa), mengingat sebagian jemaah hanya mampu berbahasa daerah.



Sumber

Pengembang Bandara Lebak Ngotot Bangun Bandara Walaupun Tanpa Izin Kemenhub


Pihak yang berencana membangun Bandara Lebak, PT. Maja Raya Indah Semesta (MRIS) berkomentar sinis terkait dengan belum turunnya izin dari Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan. Direktur Utama PT. MRIS, Ishak bahkan menantang pihak Kementerian Perhubungan dengan menyatakan akan tetap membangun bandara tersebut walaupun belum mendapat izin.

“Akan tetap investasi dilanjutkan. Biarin aja, emang negara punya Jonan? Bilangin, kata Pak Ishak, memangnya negara ini punya Jonan sendiri?,” ujar Ishak hari Kamis (17/09) di Jakarta.

Ishak menuding alasan Menteri Jonan untuk tidak memberikan izin terkait pembagian wilayah udara sebagai suatu ketidak mengertian Jonan mengenai hal tersebut. Ia bahkan menuding Menteri Jonan memang tidak ingin memberikan izin tersebut dengan mencari-cari alasan.

“Menteri saja yang mungkin tidak tahu cara hitung tata ruang udara. Halim dan Cengkareng memang sudah dari dulu tabrakan airspace nya. Lagipula khan ada pengatur lalu lintas udara,” ujarnya lebih lanjut.

Menanggapi hal tersebut, staf khusus Menteri Perhubungan, Hadi M Djuraid mengatakan pihaknya mempersilahkan bila PT.MRIS tetap ngotot membangun bandara yang akan digunakan oleh maskaai Lion Air tersebut. Namun Hadi mengingatkan agar PT.MRIS harus siap menerima resiko terkait terbatasnya wilayah udara di Bandara Lebak tersebut.

“Keterbatasan wilayah udara itu karena ada Bandara Curug di sisi barat. Di sisi tenggara ada Bandara Atang Sanjaya, di timur ada Bandara Rumpin, di sebelah utara dan timur laut itu wilayah Soekarno-Hatta dan Halim. Di sisi utara juga ada tempat latihan menembak milik Arhanud. Sedangkan di sisi selatan ada daerah pegunungan dengan ketinggian hingga 11.000 feet,” ujar Hadi.

Menurut Hadi, dengan fakta itu lokasi bandara Lebak sulit untuk memberikan keleluasaan pergerakan pesawat termasuk pemanduan saat akan tinggal landas dan mendarat. Hadi juga mengatakan pihaknya tak akan mengorbankan wilayah udara bandara-bandara yang telah lebih dulu ada di wilayah tersebut.



Sumber

On Time Performance Penerbangan Haji Garuda Capai 92 – 100%


Garuda Indonesia mencatat 92,38 persen performa ketepatan waktu (on time performance – OTP) hingga kloter terakhir tahap I pada 18 September 2015 dan telah menerbangkan 82.871 calon haji. Kloter terakhir tahap I berangkat membawa Embarkasi Jakarta (Kloter 39) menggunakan penerbangan GA 7280 dan mendarat di Jeddah pada kamis malam waktu setempat.

“Dengan terlaksananya penerbangan terakhir di Jeddah, maka pada tahap pertama musim haji tahun 2015/1436H, Garuda Indonesia telah menerbangkan total 82.871 calon haji dari rencana 83.175 orang,” ujar Vice President Corporate Communications Garuda Indonesia Benny Siga Butarbutar.

Benny menambahkan, pelaksanaan penerbangan haji fase I keberangkatan untuk tahun ini yang mencapai OTP 100% ada lima dari sembilan embarkasi, yakni embarkasi Banda Aceh, Balikpapan, Medan, Padang dan Lombok yang membukukan OTP 100 persen.

Di musim haji tahun ini maskapai Garuda Indonesia mengoperasikan 11 pesawat yang terdiri atas Airbus A330-300 (kapasitas 360 kursi), empat Boeing 747 (455 kursi) dan satu unit Boeing 777-300ER (393 kursi).

“Pesawat-pesawat tersebut rata-rata berusia muda dan di antaranya diproduksi pada tahun 2015,” imbuh Benny.

Sedangkan jumlah awak kabin yang terlibat sebanyak 484 orang di mana 70 persen di antaranya berasal dari daerah-daerah embarkasi. Hal ini dimaksudkan untuk meminimalisir kendala bahasa, terutama mereka yang tidak fasih berbahasa selain bahasa daerahnya.


Sumber

Sejumlah Masyarakat Dukung Rencana Perpindahan Bandara Sampit


Rencana pemindahan lokasi Bandara Haji Asan Sampit mendapat dukungan sejumlah masyarakat di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Pemindahan lokasi bandara itu sendiri karena area di sekelilingnya telah dipadati penduduk.

“Kami dari Forbes LSM (Forum Bersama Lembaga Swadaya Masyarakat) Kotim setuju dan mendukung rencana Bandara Haji Asan dipindah ke Ujung Pandaran. Memang sudah saatnya Kotim berbenah di sektor penerbangan,” ujar Ketua Forbes LSM Kotim, Audy Valent, di Sampit, Sabtu hari ini (19/09).

Rencananya Bandara Haji Asan Sampit yang saat ini berlokasi di pinggir Sungai Mentaya Kelurahan Baamang Hulu Kecamatan Baamang, diwacanakan dipindah ke kawasan pantai Ujung Pandaran Kecamatan Teluk Sampit dengan jarak sekitar 80 km dari Sampit Ibu Kota Kabupaten Kotim.

Faktor lain yang mendorong munculnya wacana perpindahan lokasi Bandara Haji Asan Sampit adalah semakin banyaknya permukiman warga di sekitar bandara dan kabut asap akibat kebakaran lahan yang terjadi setiap tahun saat kemarau. Selain itu, untuk pengembangan juga akan lebih mudah karena lahan yang tersedia masih sangat luas. Posisinya yang di bibir pantai juga dapat mengurangi resiko kecelakaan penerbangan dan dampaknya.


Sumber

Dirjen Pajak Tegaskan PPN 10 Persen untuk Avtur Tidak Bisa Dihapus


Menteri Perhubungan Ignasius Jonan sempat mengkritik mahalnya harga bahan bakar pesawat atau avtur yang dijual oleh Pertamina. Bahkan harga yang ditetapkan Pertamina lebih mahal sekitar 20 persen dibandingkan dengan harga avtur di pasaran internasional.

Mahalnya harga avtur di Indonesia terjadi karena beberapa faktor, di antaranya karena kilang Pertamina yang sudah tua, biaya sewa peralatan kepada Angkasa Pura selaku pengelola bandara, dan ditambah dengan adanya Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10 persen.

Meskipun demikian, Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan mengaku tidak bisa menghapus PPN 10 persen agar harga avtur menjadi lebih murah. Alasannya, pemerintah perlu mengubah Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 Tentang PPN terlebih dahulu jika ingin komponen PPN 10 persen untuk avtur dihapuskan.

“Avtur kena PPN 10 persen, tidak bisa tidak, karena undang-undang menyatakan itu. Dan sampai saat ini tidak ada kebijakan untuk merevisi. Untuk mengubah undang-undang kayaknya nggak mungkin. Itu kan sudah ada di undang-undang, avtur termasuk barang yang dikenakan pajak, tidak dikecualikan. Avtur, bensin itu kena PPN 10 persen,” kata Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Sigit Priadi Pramudito.


Sumber